Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Monday, 13 February 2017

Memahami Batasan


"Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al-Ikhlas 112:1-4). Surat Al-Ikhlas merupakan surat yang familiar dikalangan pemeluk Islam, dikarenakan suratnya yang pendek dan mengandung arti yang memberi keterangan tentang Allah secara sederhana namun mutlak. Allah tidak dapat dipersamakan dengan apapun karena diluar Allah semuanya mahluk. Selain itu, akal manusia yang terbatas tidak mampu menjangkau Allah utamanya dalam persfektif wujudiyah.  
Manusia bisa saja melakukan imajinasi untuk mengupayakan suatu karya yang bagus dan indah meskipun manusia belum pernah melihatnya secara langsung dengan mata telanjang. Misalnya melukis nebula (awan gas tempat diproduksinya bintang-bintang) yang memiliki rupa elok dengan luas dan besaran yang jauh melebihi diameter tata surya. Manusia juga dapat merangkai kata mutiara atau mendeskripsikan hasil penelitiannya yang rumit tentang segala bidang ilmu dengan baik. Manusia mampu melakukan sesuatu hal yang dalam konteks mahluk lebih unggul dari ciptaan tuhan lainnya oleh sebab manusia mampu mendayagunakan akal pikirannya. 
Al Qur'an memberikan penjelasan tentang keistimewaan manusia dalam banyak surat, sebagai penegasan tentang statusnya sebagai khalifah di bumi. Dalam sejarah perkembangannya, manusia melahirkan banyak ilmuwan diberbagai bidang, dan telah mengalami banyak kemajuan. Artinya manusia telah mengalami peningkatan pengetahuan dalam sejarah keberadaanya. Tuhan sang maha kasih memberikan anugerah tersendiri pada manusia dengan jelas dan gamblang serta rinci sebagai bekal mengkhalifahi bumi. Akal sebagai senjata yang diberikan tuhan serta indera-indera lainnya merupakan suatu organisme yang harus dibudidayakan oleh manusia. Akan tetapi ternyata kelengkapan yang dimiliki oleh manusia tidak diperkenakan olehNya untuk mengetahui dzatNya secara langsung.  Kita bisa melihat, mempelajari, kemudian memahami alam semesta beserta isinya yang luas ini melalui penggunaan indera dan akal, namun karena Allah alimul ghoib, maka kita tidak dapat mengamatinya secara langsung.
Surat Al Ikhlas merupakan satu dari sekian banyak surat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang keterbatasan manusia khusunya yang menyangkut dengan pengetahuan tentang Allah. sebab Allah tidak dapat di indera dengan software secanggih apapun, Allah hanya bisa dirasakan kehadirannya, itupun dalam benak seorang yang khusyu. Akan tetapi akal yang merupakan anugerah penting dari Allah dapat setidaknya memberi pemahaman tentang bagaimana Allah itu. Akal mampu menjelaskan tentang kebesaran Allah lewat luasnya alam semesta, akal pula dapat memberi pengetahuan tentang maha bijaksananya sang Pencipta dari keseimbangan dan keteraturan kosmos. Para ilmuwan saya kira, ialah kalangan yang memiliki ketakjuban tersendiri mengenai hal ini, karena mereka mengetahui sesuatu yang mungkin tidak diketahui oleh awam. Oleh karena itu, saya kira para ilmuwan terlepas apapun agamanya akan memiliki kesadaran mendasar tentang unsur teologis yang menjadi asal usul segala sesuatu. 
Saya membayangkan bagaimana jadinya jika dunia yang telah mengalami periodisasi kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan peradaban ini berlangsung tanpa agama? apakah manusia mampu menangkap makna atau hal esensial dibalik penemuan maupun perkembangannya? apakah manusia akan mampu menjelaskan siapakah kreator agung yang menyediakan sarana berupa jagat raya yang menakjubkan ini? apakah manusia mampu menjelaskan mengapa sampai kini selain bumi tidak satupun ditemukan zona layak huni diantara triliunan planet yang mengisi alam semesta maha luas ini? dari sinilah barangkali Agama hadir sebagai suatu jalan yang mencerahkan kegelapan, meneruskan kebuntuan, jawaban dari pertanyaan, dan setumpuk persoalan hakiki lainnya yang besar kemungkinan hanya akan melahirkan spekulasi-spekulasi atau bahkan pertanyaan tanpa akhir yang sungguh membuat akal menjadi sakit. 
Agama merupakan rahmat terbesar dari Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Melalui Al-Qur'an, Allah memberikan informasi tentang apapun saja yang dapat dan tidak dapat diketahui oleh manusia bahkan lebih dari itu. Sungguh, Allah tidak ingin mahluknya terombang ambing dilautan kegelapan, karena pada hakikatnya Allah adalah cinta yang tidak akan pernah ditemukan ujungnya. Wallahualam.


Wednesday, 7 September 2016

Positivisme Politik


oleh : Hasan Sadeli

Suatu peradaban lahir dan ditransmisikan lewat proses-proses sosial demikianlah Blum Camerun dan Barnes berteori dalam karyanya History of Western World. Dimasalalu negara penakluk, yang umumnya memiliki peradaban  lebih tinggi dapat mentrasmisikan peradabannya kepada bangsa primitif. Karya-karya tentang sejarah perkembangan politik di barat banyak diadopsi dari peradaban yang ada sebelumnya, dikatakan bahwa barat sekarang berhutang budi pada peradaban Yunani-Romawi, sebagaimana halnya Yunani-Romawi berhutang pada Mesopotamia, Persia, Mesir dan Kreta. Warisan peradaban yang dimaksud ialah tentang pandangan hidup, individualisme, menomorsatukan akal (rasio), kebebasan dan sekulerisme.  
Disatu sisi, pandangan  barat dewasa ini terbentuk dari empirisme Yunani-Romawi khususnya dalam bidang pengembangan pengetahuan yang melahirkan eksperimentasi dan spekulasi mendasar diberbagai bidang penemuan. Di sisi lain, Romawi mewariskan tradisi tentang sistem hukum, pemikiran dan lembaga politik sampai praktiknya yang banyak terlihat dari apa yang dipraktikan oleh negara-negara seperti Jerman, Italia, Swis, Belanda, dan Perancis. Faktanya, negara-negara tersebut dalam sejarahnya dikenal sebagai negara penakluk, ini sekaligus akan memberi dampak pada negara-negara yang dijajahnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Negara-negara bekas jajahannya akan ikut mempraktekan warisan kuat peradaban Romawi. Bagaimana tidak, Belanda menerapkan teori hukum di Indonesia yang diperoleh dari Kode Civil Napoleon dan itu merupakan produk modifikasi hukum-hukum Romawi.
Dalam bidang politik, Romawi memberikan pemahaman kepada Barat tentang teori imperium. Teori ini banyak berbicara mengenai kekuasaan serta otoritas negara, dimana kedaulatan dan kekuasaan ialah perwujudan dari kekuatan rakyat yang telah didelegasikan kepada penguasa negara. Rakyat memiliki hak-hak yang sama (equal rights) dan itu merupakan puncak piramida kekuasaan yang esensial. Dalam kerangka pemikiran ini, saya melihat rakyat demikian diagungkan namun disisi lain resiko penyalahgunaan dapat terjadi kapan saja dimana saja oleh para penguasa yang sejatinya dititipkan wewenang. Lebih-lebih apa yang menjadi realitas politik dibarat pada abad pertengahan membiaskan tafsiran mengenai teori imperium karena disaat itu gereja tampil tidak hanya sebagai institusi teologis, namun menjangkau sistem sosial-politik.
Kekuasaan dan negara merupakan wacana politik. Dan karena itu dalam dunia politik lahir banyak pengetahuan baru tentang filosofi, sistem, serta struktur yang melahirkan karakteristik beragam dan dinamis. Bagaimana pemikiran politik mengembangkan gagasan kontrak sosial (du contrac social) sebagaimana yang dipopulerkan oleh JJ Rousseau, Locke dan juga Hobbes sebagai kerangka yang secara historis dapat dilacak sekali lagi dari warisan peradaban Romawi. Kontrak sosial sebagai satu konfigurasi dari adanya realitas dan potensialitas pengingkaran yang dilakukan oleh penguasa negara. Potensialitas penyalahgunaan wewenang sangat tinggi, itu sebabnya lahir Trias Politica untuk menyeimbangkan dan membatasi kekuasaan negara serta jalannya pemerintahanan.  
Negara merupakan lembaga politik, tidak bisa dikatakan sebagai lembaga ekonomi, atau lembaga sosial secara utuh. Kalau dibuat model hierarki, keluarga ialah unit terkecil dari lembaga politik, berlanjut ke unit Desa, distrik, Provinsi dan tertinggi ialah negara. Mengingat tingginya maqom yang dimiliki negara, maka negara dianggap sebagai lembaga politik yang paling berdaulat, tapi tentu jangan disalah artikan dengan kekuasaan yang tidak terbatas. Negara sebagai hasil karya politik harus memiliki cita-cita yang mulia untuk seluruh rakyatnya, entah itu mensejahterakan rakyatnya, membahagiakannya atau apapun saja itu, jika tidak maka besar kemungkinan yang sejahtera ialah penguasanya (state authority) atau mereka yang ada dilingkaran kekuasaan, meski belum tentu kesejahteraan yang dimiliki oleh para penguasa menjadi jaminan kebahagiaan. Sementara itu, praktik politik serta sistem yang dianut berbagai negara didunia dewasa ini mengedepankan demokrasi sebagai yang paling rasional diantara model lainnya.

Menukik Politik Indonesia  

Kalau berbicara mengenai Indonesia, seberapa lama kita berpolitik, apa capain-capain yang telah kita peroleh sebagai sebuah negara berdaulat? Apakah keberhasilan politik kita ditandai dengan terbebasnya dari belenggu penjajahan? Adakah setelahnya kita dijamin untuk tidak dijajah lagi misalnya oleh bangsa sendiri? barangkali perlu diajukan rumusan sebagai berikut : model politik yang dianut di Indonesia ini diadopsi dari mana? Barat-kah? Kerajaan-kerajaan Nusantara-kah? Kalau kita bicara barat itu dari luar, sementara kalau datangnya dari akar budaya politik kerajaan di nusantara berarti original, lalu bagaimana dengan Islam? Kenapa islam, apa Indonesia mayoritas muslim? Mengapa bicara politik bawa-bawa Islam bawa Barat dan bawa Nusantara segala?
Dari pertanyaan-pertanyaan diatas sungguh jawaban persisnya saya tidak mengetahui, dibutuhkan analisis serta kajian mendalam dari berbagai disiplin ilmu bagi yang meminatinya. Sebab akan dibutuhkan banyak kata untuk menjelaskannya. Tapi barangkali begini, rumusan yang tepat ialah sejauh mana kita telah mengidentifikasi suatu permasalahan agar menemukan patern untuk kita perjelas pemetaannya. Karena bicara politik akan sangat bersentuhan dengan premis budaya, kehidupan sosial, serta sejarah perkembangannya. Ini saya simplifikasi supaya kita menemukan akar persoalan yang kita hadapi hari ini dengan formula yang sedang kita terapkan, apakah cukup efektif, apakah sesuai dengan akar sosiokultural kita ataukah kita hanya berusaha menerapkan barang baru yang kita sangka cocok buat kita. 
Saya iseng berteori dengan mengatakan politik itu menawarkan prinsip dialektika yang dinamis-universal dan alamiah. Bahwa partai di negeri ini bersifat segmentatif, ada partai yang dikenal bercorak Islam, ada partai yang melekat menamai dirinya demokratis, ada partai tua yang dikenal menguasai sistem, dan lain-lain. Itu menandakan diferensiasi dari entitas politik di Indonesia. Entitas politik itu mendelegasikan wakilnya dan melebur menjadi lembaga politik berskala massif bernama negara yang di Indonesia lebih populer dengan pemerintah. Sebab paradigma sistem politik di Indonesia sendiri memungkinkan untuk kaburnya pengertian dan pembedaan antara negara dan pemerintah. Untuk melihat perbedaan ini anda bisa ambil contoh Jerman misalnya, yang kalau bicara pemerintah berarti merujuk pada jabatan politis, yang dipilih dalam pemilu dan secara berkala diganti.
Sementara di Jerman ada Pegawai negeri/birokrat/pegawai publik yang hanya patuh pada konstitusi dan sebagai eksekutor dari UU, sementara di kita, eksekutor UU disebut pemerintah. Mereka juga dikenal sebagai adminitrasi negara (Verwaltung), yang memahami konstitusi dan mentaatinya. Itu sebabnya mereka sebagai pelaksana UU berkewajiban langsung bersentuhan dengan publik, institusi-institusi seperti kepolisian, dinas-dinas itulah yang disebut administrasi negara atau negara dan mereka bersifat tetap menjalankan sistem. Jangan heran jika melihat Belgia selama lebih dari 500 hari dari pertengahan 2010 sampai akhir 2011 tanpa pemerintahan tapi birokrasi mereka dalam melayani publik berjalan dengan baik. Kalaulah di Indonesia apa bisa begitu? Kita ini sangat pemerintahsentris, entah dimana posisi sesungguhnya negara dikita ini.

Mengedukasi Politik

Tulisan sederhana ini saya maksudkan untuk melihat bahwa 

Kesibukan-kesibukan di Tahun Politik

Tahun 2024 adalah tahun politik. Yakni tahun yang paling sibuk bagi semua kontestan Pemilu beserta para pendukungnya. Pada tahun itu, nasib orang-orang yang ngaleg dan nyapres ditentukan. Pada tahun itu juga kaos-kaos tipis berlogo partai akan banyak dipakai oleh ragam kalangan mulai dari pedagang sayur, penjual eskrim keliling, sopir, kernet, masinis becak, petani, nelayan dan anak turun profesi lainnya. 

Di tahun itu pula para batang pohon (di pinggir jalan) dimohon kerelaannya dalam berbagi kambium dengan paku dan sehelai pamflet para caleg. Di tahun itu jumlah pengamat politik akan bertambah secara eksponensial. Kita semua tidak perlu nonton tv untuk menyaksikan analisa dari para pemerhati politik. Karena tema politik bergeser ke luar 

Politik ialah kata yang bermakna luas. Jangan bicara politik hanya pada segmen jelang pemilu, atau hanya mempelajari perilaku pemilih, tingkat partisipasi disetiap perhelatan, atau maraknya politik uang, atau kalau PDI-P berkuasa akan begini, Golkar akan begitu, lalu rahasia umum bahwa hanya pengusaha atau mereka yang bermodal yang akan memenangkan pemilu, dan seterusnya dan seterusnya. Saya tidak mengatakan itu tidak penting, tapi akan lebih baik kalau kita bicara  politik ya sekali-sekali komprehensif lah. Sebab politik ialah juga pemahaman dan perilaku kita, politik tidak hanya bicara kontestasi, ia bisa terdiri dan melahirkan begitu banyak pola dan struktur.
Umpamanya politik ini restoran, ia menyajikan menu yang cukup populer pasca perang Dunia II katakan namanya demokrasi, lalu demokrasi punya pisau dan alat memasak berupa pemilu, pemilu yang ditawarkan oleh menu demokrasi ini menjamin setiap warga negara berhak memilih dan dipilih, pemilu ialah tempat memilih pemimpin dan selanjutnya merumuskan untuk bersatu dalam lembaga politik besar yang disebut negara. Setiap kebijakan negara yang dibuat diberbagai bidang tidak lain ialah kebijakan politik. Jadi makna politik bisa korelatif dan indikatif dengan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari mulai dari urusan pendidikan, pertanian, infrastruktur, sampai urusan dapur. Jadi mulai dari landasan filosofis, sistem, penyelenggaran, sampai cita-cita luhur negara bangsa ialah alur dari pekerjaan politik. Jadi tahap demi tahap dari alur ini harus menemukan koherensi dalam konfigurasi pembelajaran politik.
Kalau orang bicara pembelajaran politik, itu tidak berarti yang menjadi objek ialah rakyat (konstituen/pemilih) dan subjek ialah mereka yang dipilih, pembelajaran berlaku bagi semua kalangan apapun posisinya. Sebab jangan-jangan yang justru mengerti politik ialah mereka yang mendelegasikan, dan yang tidak faham politik ialah mereka yang diberikan amanah, dengan alasan karena budaya politik di Indonesia sudah sedemikian konsumtif. Kalau ini ini terus berlangsung dan sepertinya akan semakin parah sebaiknya orang jangan banyak mengeluh, apalagi putus asa memikirkan nasib bangsa kedepan gara-gara suramnya aktivitas politik disemua level. Sebab meski dengan dalih ilmiah sekalipun anda kemukakan alasan, akan sulit bahkan percuma, ya tadi itu sebabnya, orang yang diamanahi tidak lebih faham dari yang memberikannya amanah. Lebih-lebih jika posisi amanah itu ia gunakan untuk kepentingannya sendiri.
Kalau sudah begitu langkah baiknya kita tidak usah menaruh banyak harapan pada pemerintahan hari ini, supaya kepala kita tidak jamuran. Namun harapan yang sedikit itu kita aspirasikan pada pemerintah agar mengimplementasikan pembelajaran politik lewat kurikulum saja sudah. Soal lain-lain biarkan pemerintah hari ini dan pemerintahan dua sampai tiga periode akan datang semau-maunya bertindak, tidak usah dimasukan dalam hati, tanggapi dengan kepekaan secara wajar, kita biasa-biasa saja dan memang sudah biasa. Pancarkan optimisme pada generasi muda usia30an ide-ide serta gagasan yang positif tentang pembelajaran politik dan pada generasi yang masih hijau yakni mereka yang masih duduk dibangku sekolah. Kita menaruh ikhtiar dan harapan pada generasi Indonesia yang bermoral dan terdidik dengan baik.
Karena pembelajaran politik  pada usia dini sangatlah penting. Anak-anak harus diberi pengertian di sekolah atau umpan tentang apa saja kegiatan mereka disekolah yang berkenaan dengan kegiatan politik, bahwa mata pelaran yang mereka pelajari berkaitan dengan standarisasi kurikulum milik negara, sekolah gratis, serta segala fasilitas lainnya merupakan hasil kebijakan politik. Generasi muda sejak dini diberikan pemahaman bahwa berpolitik itu alamiah, dan politik itu baik. Yang tidak baik ialah orang-orang yang berkaitan dengannya yang memberikan imej bahwa politik itu kotor. Ini bukan kuliah politik, saya sama sekali bukan ahlinya, tapi saya suka berpolitik, orang yang pesimis dengan politik saya ingin katakan memang tidak semua hal diurusi dan bisa disentuh oleh politik, tapi tidak ada salahnya untuk memahami bahwa ada begitu banyak hal  yang bersentuhan langsung dengan politik. Karena politik bukan hanya urusan Presiden, menteri, DPR, Ormas, atau apapun saja, politik ialah tanggungjawab bersama, apakah ia ulama, pelajar, petani, pedagang, buruh, tukang ojek, para baluk, singkatnya politik ialah tanggungjawab bersama, bahkan bagi yang paling membenci politik sekalipun ia tetap bertanggungjawab, jadi jangan buang-buang energi untuk membenci.      
 
         

Sunday, 24 April 2016

Perenungan Part I

Oleh : Hasan Sadeli

Dalam sejarah perenungan panjang umat manusia, tuhan selalu dianggap sebagai wujud baru bagi kalangan minoritas (Pemikir, Ulama, Filosof, Ilmuwan dll) , pemahaman sebagian lainnya yang tergolong mayoritas (awam/saya salah satunya), tuhan ya begitu-begitu saja. Dengan jangkauan mata pandangnya yang terus menerus diasah, kalangan minoritas menyadari, semakin  tuhan didalami, ia semakin tidak bertepi, sedemikian dinamisnya tuhan hingga lahir istilah ‘ketinggian ilmu serta pencapaian umat manusia dari masa ke masa tidak lain merupakan pantulan kearifan tuhan dalam preposisi sederhana, sementara kita merasakan ketakterhinggaan ilmu tuhan tidaklah mencukupi untuk ukuran hidup manusia seandainya pun diberi keleluasaan waktu untuk hidup hingga triliunan tahun kedepan.
Memang, memahami tuhan tidaklah sama dengan memahami manusia ataupun ciptaan-ciptaannya yang lain, namun tuhan menegasikan lewat anjuran untuk merenungi-nya lewat apa yang ia ciptakan. Sahabat saya basith muzaky pernah mengatakan, “seseorang yang merenungi kebesaran tuhan itu sama dengan ia telah beribadah selama 100 atau 1000 tahun”, untuk konteks waktunya jujur saya lupa berapa, mungkin bisa ditanyakan langsung ke yang bersangkutan jika dianggap perlu.   
Tuhan begitu mencintai mahluknya, tuhan tidak memberi perintah tanpa menyediakan fasilitas terlebih dahulu, ia memberi kelengkapan sarana bagi ciptaanya. Secara khusus manusia diberikan keistimewaan dari mahluk lainnya. Ia menyediakan bumi untuk didiami, para ilmuwan beranggapan bahwa umur bumi ini sudah lumayan uzur untuk ukuran planet biasa, ilmuwan meyakini bumi tercipta sejak 5 milyar tahun lalu. Dan ingat, itu hanya umur bumi, tentu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan umur alam semesta yang menurut perkiraan umat manusia mencapai 14 miliar tahun bahkan sangat-sangat-sangat mungkin lebih tua dari itu. Akan sangat kontras jika kita jadikan komparasi dengan keberadaan manusia khususnya sejak adam hingga kini yang bahkan belum mencapai 100 ribu tahun.  
Tuhan memiliki sifat-sifat, ia menyifati diri-nya semata untuk kepentingan manusia. Sebab tidak ada yang mewajibkan tuhan memiliki sifat rahman rahim misalnya, atau As Syakuur (maha berterimakasih) yang pengertiannya ini sempat saya tanyakan kepada sahabat devi dan abu karena kebetulan ketika coretan ini diketik beliau berdua ada didekat saya, As Syakuur punya beberapa pengertian menurut para ahli tafsir, sampai-sampai sahabat abu mengkerutkan dahinya selama sekitar 10 detik saat saya bertanya pengertian As Syakuur, entah kaena ia tidak tahu maknanya atau mungkin kata tersebut sedemikian terdengar asing ditelinganya, hehe.  Lalu sifat tuhan yang lain seperti Ro’uf atau apapun saja sifat-nya yang lembut lagi bersahabat bagi manusia. Tuhan menyatakan secara eksplisit tentang sifatnya sejumlah 99, atau yang dalam islam populer dengan Asmaul Husna.
Mengingat istimewanya manusia sebagai mahluk, sampai-sampai asal-usul segala sesuatu (mahluk) ia ciptakan dari nur Muhammad yang wujudnya baru ada pada abad ke 6 masehi di Arab sana dan bukan di Indonesia. Rasulullah merupakan keturunan langsung dari Nabiyullah Ibrahim dan Siti Hajar, nah istri kedua Nabi Ibrahim ini bukan orang arab, ia disuplai dari luar Arab, dari unsur bahasa, Hajar bisa berarti Batu, tapi di Indonesia bisa terdapat beragam pengertian, Hajar atau Ajar artinya mendidik, kalau Macam-macam Di-Hajar dst.  Rasulullah melarang siapapun saja untuk menggambar diri-nya, salah satu sebabnya untuk menghindari  pengkultusan selain Allah. Meskipun dibeberapa kalangan orang Indonesia, larangan itu masih menyisakan pertanyaan, terutama jika ditilik dari genealogis manusia agung ini, jangan jangan Kanjeng Nabi ini? Hehehe. Bercanda.
Apabila ada tokoh didunia ini dengan keterbatasan sarana namun dengan pencapaian gemilang, maka Rasulullah-lah orangnya. Karen Armstrong seorang penulis terkemuka Inggris dengan karya-karya monumental yang salah satunya berjudul History of God terheran-heran dengan  kenyataan bahwa mengapa beliau malah buta huruf. Ia sangat yakin bahwa keberadaannya sejak kecil tanpa tahu akan jadi apa iya dimasa depan, sikapnya yang secara bertahap menunjukan bahwa ia tengah membangun sebuah Teokrasi tanpa disadarinya, bahkan barangkali ia sendiri tidak mengetahui apa teokrasi itu.       


Wednesday, 20 January 2016

Mengenai Historiografi

Oleh : Hasan Sadeli
Sebelum mengenal  tulisan, kebudayaan barat terlebih dahulu mengenal gambar-gambar arkais seperti gambar binatang buruan, manusia, serta aktivitasnya. Gambar-gambar tersebut terdapat di gua-gua seperti yang terdapat dorgone spanyol. Di indonesia bagian timurpun terdapat gambar-gambar arkais, misalnya di kalimantan, kepulauan kai, seram, teluk triton, dan beberapa tempat di Sulawesi selatan. Demikianlah cara manusia dahulu mengekspresikan diri sebelum mengenal tulisan. Gambar-gambar tersebut diperkirakan berasal dari masa 18.000-7.000 SM. Mereka memanfaatkan gua-gua, dan karang untuk perlindungan dan tempat istirahat, pola ini oleh ahli prehistori disebut dengan abris sous rosches (tempat perlindungan dibawah karang dan atau gua). Gambar-gambar yang umumnya terdapat dipemukiman itu memperlihatkan pada kita bahwa terdapat nilai ekspresi dari aktivitas manusia dahulu yang ini sekaligus menandai periode klasik.
Adapun tulisan, mulai dikenal sejak beberapa ribu tahun SM, orang mesir sudah menggunakan huruf hieroglif dengan simbol-simbol. Alfabet pertama ditemukan di selatan palestina dan semenanjung sinai huruf tersebut diciptakan oleh orang-orang funisia dan biblos sekitar abad 19 SM.. Akan tetapi penemuan prasasti di dekat latakhiyeh daerah ugarit lama membuktikan bukan orang funisia yang pertamakali menemukan alfabet fonetis melainkan orang semit. Orang yunani kemudian menyempurnakan alfabet tersebut dan menyebarkannya ke eropa barat melalui orang romawi dan ke timur melalui byzantium. Seiring dengan perkembangan menulis, penyediaan teknologi sarana tulisan terus berkembang, kertas yang pada awalnya terbuat dari sutera dan bubur pohon murbei pertamakali ditemukan di cina pada awal abad pertama masehi.   Kertas linen modern baru muncul sekitar tahun 1250.
Para ilmuan berpendapat, sebelum konsep matematis tentang waktu ditemukan, terlebih dahulu konsep waktu diciptakan dari kesadaran pengulangan-pengulangan alam atau peristiwa-peristiwa sosial untuk menentukan hari-hari sakral. Kalender yang paling sederhana adalah yang didasarkan pada bulan (lunar calendar), Tahun matahari dipergunakan oleh orang mesir dan meksiko yang kemudian dijadikan kalender modern. Pada tahun 46 S.M. Julius Caersar memperkenalkan tahun matahari kepada bangsa romawi. Sedangkan di wilayah-wilayah berpenduduk islam dipergunakan pula kalender hijriyah yang tahun pertamanya jatuh pada perhitungan bulan dimulai pada 15 juli 622 Masehi. Dalam hal periodisasi, orang-orang mesir menggunakan  tahun-tahun terjadinya peristiwa besar sebagai kerangka kronologi untuk mengidentifikasi sejarah, sedangkan orang babylonia membuat kronologinya mengacu pada daftar raja-raja yang memerintah.
Historiografi yang akar katanya  berasal dari bahasa yunani yakni historia (penyelidikan) dan grafein (gambaran). Istilah ini sudah lama dipakai oleh orang, misalnya oleh Hecataeus yang menggunakan kata tersebut untuk menyebut hasil penelitiannya tentang gejala alam, juga herodotus yang melukiskan latar belakang geografis dalam karyanya mengenai peperangan orang persia. Pada bahasa inggris kemudian dikenal istilah historiografi yang didefinisikan a history of historical writing (sejarah penulisan sejarah).
Penulisan sejarah mengalami perkembangan setiap masanya, dan memiliki perbedaan tergantung daerah serta kebudayaan setempat. Pada masa lampau, seorang sejarawan memiliki fungsi untuk menafsirkan dan meneruskan tradisi bangsanya. Dan karenanya akan mempengaruhi terhadap fungsi, ciri, serta isi dari historiografi. Dalam perkembangan historiografi di barat, terdapat beberapa kemajuan. Pertama,  ketika oleh Jean Mabilon (pionir kritik eksternal) melalui kritik teks yang menekankan otentisitas sumber sejarah, mengingat saat itu penulisan sejarah dianggap kurang memperhatikan otentisitas sejarah, terutama sejarah abad pertengahan yang mengandalkan otoritas sumber-sumber gereja. Kedua, ketika Leopold Von Ranke (pionir kritik internal) yang mengemukakan tentang keharusan menulis sejarah sebagaimana peristiwa itu terjadi. Ranke menunjukan bahwa hal-hal yang bersifat irasional harus disingkirkan sehingga menjadi sebuah historiografi yang ilmiah, ini sekaligus dianggap sebagai loncatan besar dalam penulisan sejarah, ranke ingin menunjukan bahwa sejarah ialah sebuah ilmu. Ketiga,munculnya socio scientific approach yang melibatkan ilmu-ilmu sosial kedalam ilmu sejarah, Mazhab Anales dengan tokohnya Marc bloch dan Lucian febvre dapat dikatakan sebagai pionir dalam penelitian sejarah yang bersifat multidemensional tersebut.
Selanjutnya, peran sejarawan jerman Karl Lamprecht yang menghendaki perluasan studi sejarah mencakup kajian ekonomi dan budaya. Penggunaan metode kuantitatif dalam analisis sejarah seperti yang dipergunakan lamprecht dan sejarawan-sejarawan jerman selanjtunya akan memperkuat sejarah sebagai suatu disiplin ilmu. Disamping itu, aliran new history yang dimotori James Robinson semakin menegaskan bahwa penggunan ilmu-ilmu sosial untuk analisis sejarah memang tidak bisa dihindarkan. Sebagaimana halnya sosiologi sebagai disiplin ilmu yang ditegakan oleh tokoh-tokoh terkemuka macam Emile Durkheim, August Comte, dan Talcon Parson.    

Thursday, 31 December 2015

Urgensi studi sejarah perekonomian Indonesia












Oleh : Hasan Sadeli

Pendahuluan
Studi tentang sejarah perekonomian di Indonesia dapat dikatakan masih berumur muda dibanding dengan studi sejarah sosial dan politik. Sejarah perekonomian di Indonesia mulai mendapatkan tempatnya pada awal dekade  80an.  Indonesia relatif tertinggal apabila dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya seperti India dan Cina (sekarang Tiongkok) yang tetlebih dahulu memulai studi mengenai perekonomian.
Berbagai kajian tentang sejarah perekonomian Indonesia khususnya pada zaman kolonial mulai dibahas pada tahun 1983, yakni saat konferensi yang mengetengahkan sejarah perkonomian Indonesia pada masa kolonial diselenggarakan oleh Australian National University.  Dalam diskusi tersebut banyak disajikan kondisi perekonomian Indonesia dari pra kolonial sampai pada dampak kolonialisme terhadap perekonomian Indonesia. Dikatakn bahwa, ruang lingkup pembahasan meliputi sejarah perekonomian pra kolonial oleh Anthony Reid, Sistem Tanam Paksa Oleh R.E Elson dan dan Robert Van Neil, Land Reform oleh Jan Breman, Desa sebagai unit adminiistratif oleh Tjondronegoro, penilaian kembali tentang konsep involusi oleh J.A.C Mackie, serta dampak kolonialisme Belanda di Indonesia oleh Anggus Madison dan Douglas Paauw.  Makalah-makalah yang satu sama lain terpisah akhirnya dihimpun dalam buku Indonesian Economic History in The Dutch Colonial Era , buku tersebut diterbitkan oleh Yale University dan disunting oleh Anne Booth, O’Maley dan Anna Weidemann.
Perkembangan studi perekonomian di Indonesia selaras dengan perhatian para sejarawan indonesia yang pada mulanya masih disibukan dengan orientasi untuk mengedepankan penulisan sejarah yang bersifat Indonesiasentris pada tahun 1957 ketika seminar sejarah nasional ke-sati dilakasanakan. Sementara itu, persfektif yang lebih luas tentang penulisan sejarah di Indonesia mulai berkembang saat seminar sejarah nasional ke-dua diselenggarakan pada tahun 1982 dengan melakukan pendekatan-pendekatan ilmu sosial terhadap kajian sejarah (Socio Scientic Aproach) sehingga dapat dikatakan sebagai suatu periode baru dalam penulisan sejarah di Indonesia.
Dapat dipahami bahwa era perkembangan sejarah perekonomian di Indonesia baru dimulai pada sekitar dekade 80an mengingat khasanah tentang penerapan ilmu-ilmu sosial terhadap kajian ilmu sejarah baru dimulai pada tahun 1982. Pada tahun-tahun berikutnya, studi tentang sejarah perekonomian di Indonesia berkembang seiring dengan kesadaran akan pentingnya menggali sebab-sebab, proses serta dampak yang ditimbulkan pasca aea kolonialisme di Indonesia.
Faktor-faktor pendukung yang melatarbelakangi perkembangan studi sejarah perekonomian di Indonesia ialah dibukanya arsip tentang adiministrasi pemerintah kolonial di Belanda dan Indonesia untuk umum. Hal tersebut memicu para sejarwan untuk lebih jauh meneliti tentang aspek-aspek perekonomian di Indonesia pada masa kolonial terutama saat sistem tanam paksa diterapkan di Indonesia, dengan begitu para sejarawan mampu mengungkap fakta-fakta tentang berlangsungnya sistem tersebut dan meletakannya dalam posisi penting sebab tanam paksa dianggap sebagai suatu kebijakan yang menimbulkan dampak mendasar dalam kondisi sosial serta ekonomi masyarakat Indonesia pada masa-masa selanjutnya.
Data-data statistik yang menghinpun gambaran perekonomian di Indonesia sebenarnya mulai dinisiasi oleh mantan kepala Biro Pusat Statistik (Central Kantoor voor de Statistiek) Hindia Belanda P. Creutzberg dalam usaha untuk melakukan kompilasi data statistik tentang sejarah perekonomian di Indonesia. Urgensi studi mengenai sejarah perekonomian sampai-sampai membuat India menjadikan studi tentang sejarah perekonomian mereka sebagai rujukan dalam membangun ekonomi dinegara tersebut. Namun demikian, karya mengenai studi sejarah perekonomian tidak sebanyak sejarah yang mengetengahkan persoalan politik sosial, hal ini karena kapasitas sejarawan yang kurang menguasai/mengolah penggunaan data statistik sebagai data yang penting dalam mengkaji sejarah perekonomian.

Telaah kondisi ekonomi petani pada masa Tanam Paksa di Jawa.
Sistem Tanam Paksa (Cultur Stelsel) yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1830 mengakibatkan kemiskinan struktural terutama bagi kalangan petani dipulau Jawa oleh sebab tuntutan memenuhi kas pemerintah Belanda. hasilnya ialah datangnyab kemakmuran bagi pemerintahan belanda dari ekspor hasil bumi di hindia belanda sejak Tanam Paksa diterapkan. Meskipun sumber-sumber mengenai periode tanam paksa dianggap kurang lengkap, seperti terbatasnya informasi yang mengulas secara utuh mengenai kondisi ekonomi masyarakat Jawa terutama yang terdapat dalam arsip yang umumnya merupakan kumpulan laporan pertanggungjawaban. Selain itu subjektifitas dari sumber-sumber yang memuat informasi periode tersebut tidak bisa dihindari mengingat adanya tarik-menarik kepentingan dalam membentengi program tersebut dari kritik yang dilancarkan oleh kaum liberalis.

Kemiskinan dan kemakmuran pada masa Tanam Paksa
Apa yang tersisa dari pelaksanaan sistem tersebut segera akan diketahui akibatnya. Para penduduk dipedesaan melakukan perpindahan besar-besaran untuk menghindari kerja keras menjadi salah satu sebab umum yang diderita kaum petani pedesaan pada periode tersebut. Keutungan yang dirasakan terbatas pada golongan bangsawan dari Cina, India, atau Arab, sementara golongan pribumi ialah mereka yang memiliki status sosial sebagai pejabat ditingkat desa hingga residen. Perpindahan penduduk membuat tanah-tanah kosong sehingga membuat kaya para warga yang tidak meninggalkan desa. Namun sekali lagi, keuntungan tersebut bersifat terbatas. Betapapun sumber yang menerangkan kondisi ekonomi petani dianggap samar, namun apa yang mendorong mereka (para petani) meninggalkan desa menjadi alasan mendasar untuk mengungkap betapa golongan yang melakukan perpindahan tersebut tidak mendapatkan kelayakan didesanya, seperti konsep “hijrah” sebagai jalan yang ditempuh untuk memperbaiki hidup.
Meningkatnya produksi dan laba yang menopang kerajaan belanda seluruhnya bersumber dari hasil Tanam Paksa. Komoditas yang dihasilkan seperti Kopi, Tebu, Lada, Teh dan lain-lain memperlihatkan adanya kebutuhan sepihak pemerintah kolonial saja. Kopi sebagai komoditas yang mendatangkan keutungan siginfikan, sementara tanaman tersebut hanya hidup disekitar daerah dengan suhu rendah yakni daerah dataran tinggi. Padahal umumnya masyarakatIndonesia saat itu tinggal didataran rendah sebagai petani. Jarak yang ditempuh tentu cukup jauh, dimadiun misalnya, para petani harus berjalan sejauh 7 km, itu yang terendah apabila dibandingkan dengan cirebon yang sampai menempuh 12 km. Kondisi memaksa petani untuk tinggal digubuk-gubuk darurat mengingat jarak yang ditempuh cukup jauh apabila harus pulang-pergi. Kemudian komoditas penting lainnya ialah Tebu dan nila yang membuat petani harus membuka irigasi untuk lahan yang sebetulnya ditanami padi sebagai kebutuhan pokok.
Kendala-kendala yang banyak dialami oleh para petani Jawa memperlihatkan suatu kegetiran luar biasa pada masa Tanam Paksa. Belum lagi durasi jam kerja pada masa itu 4 atau 5 kali lebih lama dari jam kerja biasanya, atau sebelum tahun 1830 para petani tidak pernah bekerja selama itu. Hal ini bukan saja membuat petani teralienasi dari aktifitas sosial, namun lebih memperihatinkan ialah stamina mereka yang harus terkuras tanpa mendapatkan hasil yang sepadan. adanya musim tanam yang tidak seperti biasa sebagai akibat dari tanamn-tanaman yang menjadi prioritas tanam paksa telah menggeser posisi padi, sayuran, atau jagung sebagai bahan-bahan yang kebutuhannya bersifat mendasar.
Disisi lain, akibat yang ditimbulkan oleh tanam paksa membuat pendapatan masyarakat Jawa meningkat, beberapa contoh peningkatan tersebut terdapat di Pasuruan dan Surabaya tempat dimana tumbuhnya sektor ekonomi lokal berupa para pedagang swasta, bahkan didaerah kedu, kediri, dan pekalongan (Jawa Tengah) terjadi taraf kesejahteraan masyarakat, seperti pembayaran pajak yang bahkan sebelum waktunya. Semarang sebagai salah satu residen yang mengalami kehancuran ekonomi dengan cepat memulihkan perekonomian bahkan dengan salah satu yang termakmur di Jawa. Dikatakan bahwa telah terdapat pemerataan dalam peningkatan taraf  perekonomian dipulau Jawa pada tahun 1858-1868.   Angka-angka statistik yang memperlihatkan peningkatan pajak, pembayaran panen, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Secara umum dianggap suatu peningkatan kesejahteraan yang dialami para petani.

Konklusi 
Apa yang terjadi di Jawa pada masa berlangsungnya sistem Tanam Paksa mengakibatkan kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat petani Jawa. Kemakmuran hanyalah dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat saja, adapun data yang menunjukan telah terjadinya kemakmuran sangat meragukan. Karena peningkatan taraf  perekonomian hanya didasarkan pada aspek perdagangan yang semakin tumbuh, sektor swasta tersebut tentu bukan proyeksi yang jelas untuk mengasosiasikan kemajuan perdagangan sebagai ekses dari sistem Tanam Paksa. Selain itu, bisa saja mereka yang tidak tahan dengan kondisi di pedesaan yang mengadu nasib dan menghindari kerasnya hidup sebagai petani yang imbalannya jauh dari nilai kerja itu sendiri.
Artinya, ada yang tersisa di desa. Mereka yang tinggal disana tetap mengalami har-i-hari yang berat, kelompok petani yang mau tidak mau, sadar atau tidak telah memberikan daya upayanya hanya untuk kepentingan golongan elite saja. Sementara jangankan upah yang sepadan, mereka bahkan harus kehilangan kemakmuran dari sektor petanian seperti padi, jagung sebagai bahan kebutuhan pokok.  
Itikad baik pemerintah kolonial misalnya dalam memberi suntikan modal sangatlah sedikit bahkan tidak efektif. Sudah pasti keberhasilan yang dirasakan oleh pemerintah Kolonial pada masa Tanam Paksa tidak berbanding lurus dengan kondisi ekonomi masyarakat Jawa pada umumnya. Karena betapapun banyaknya mereka yang hijrah kedaerah-daerah ramai seperti karesidenan, semata-mata hanya untuk menghindari kerja paksa saat itu. Selain itu, kemiskinan struktural yang terjadi diperkotaan dewasa ini tidak lain adanya eksodus dari warga dipedesaan yang datang kedaerah kota yang umumnya merupakan daerah karesidenan. Karena kota pada prinsipnya ditegakan oleh pemerintah kolonial didesain untuk kelas menengah keatas. Sementara para petani dipedesaan sekali lagi, menjalani hari-hari yang kelam mungkin terkelam selama masa hidupnya.